Kemampuan Pemecahan Masalah

source: www.canstockphoto.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), masalah merupakan sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan). Di dalam matematika, menurut Hudojo (1977) suatu pertanyaan atau soal yang merupakan suatu masalah apabila tidak terdapat aturan/hukum tertentu yang segera dapat digunakan untuk menjawab atau menyelesaikannya. Hal ini berarti bahwa suatu soal matematika akan menjadi masalah apabila tidak segera ditemukan petunjuk pemecahan masalah berdasarkan data yang terdapat dalam soal.

Pendapat para ahli mengenai pengertian masalah matematika antara lain (Phonapichat, 2014: 3170):

  1. Menurut Anderson dan Pingry (1973) masalah matematika adalah sebuah situasi atau pertanyaan yang membutuhkan suatu penyelesaian dalam bentuk quantitif ataupun numerik. Untuk menyelesaikan masalah, siswa membutuhkan metode yang tepat untuk permasalahan tersebut, dan menggunakan pembelajaran/pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
  2. Menurut Adam (1997) masalah matematika dapat berupa masalah kontekstual, permasalahan dalam bentuk cerita. Untuk mendeskripsikan penyelesaian dapat menggunakan penyelesain quantitif ataupun numerik.
  3. Menurut Cruikshank dan Sheffield (1992) masalah matematika adalah pertanyaan yang berhubungan dengan matematika, tetapi tidak hanya bermain dengan bilangan atau angka. Pada beberapa masalah matematika memungkinkan adanya penyelesaian secara logika yang secara keseluruhan tidak berhubungan dengan angka.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah matematika merupakan sebuah pertanyaan yang mempunyai bentuk yang beragam yaitu tidak hanya berupa bilangan atau angka tetapi juga berupa masalah kontekstual. Sehingga metode dan pengetahuan matematika juga dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan pemecahan masalah merupakan hal penting yang menjadi perhatian para guru yang tergabung dalam The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). Menurut Sobel & Maletsky (dalam Tambunan, 2019: 293) pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika. Sedangkan menurut Pehkonen (dalam Tambunan, 2019; 293) pemecahan masalah telah menjadi tujuan akhir pada pencapaian kurikulum. Disisi lain, menurut Posmentier dan Krulik (dalam Tambunan, 2019; 293) pemecahan masalah merupakan bagian penting dari kurikulum matematika dimana siswa dapat menggunakan keterampilan yang dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sedangkan menurut Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai.

Selanjutnya menurut Sumarmo (dalam Marliani, 2015: 136) pemecahan masalah merupakan kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau menguji konjektur.

Pendapat para ahli mengenai pengertian kemampuan pemecahan masalah antara lain (Amam, 2017: 41):Menurut NCTM (2000) pemecahan masalah memerankan peran ganda pada kurikulum sekolah. Satu sisi adalah sebagai sarana atau alat mendasar untuk mempelajari matematika, disisi lainnya adalah sebagai tujuan utama dalam pembelajaran matematika.

Menurut Niskayuna (1993) pemecahan masalah merupakan pendekatan (pembelajaran diawali dengan masalah), tujuan (pernyataan yang berkaitan dengan mengapa matematika diajarkan dan apa tujuan pengajaran matematika), dan proses (kegiatan yang lebih mengutamakan pentingnya prosedur langkah-langkah, strategi atau cara yang akan dilakukan siswa untuk menyelesaikan masalah sehingga menemukan jawaban).  

Menurut Montague (2007) pemecahan masalah adalah suatu aktifitas kognitif yang komplek yang disertai proses dan strategi.

Menurut Surya (2013) pemecahan masalah adalah kemampuan siswa untuk dapat memahami masalah melalui identifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan dan kecakupan unsur yang diperlukan, membuat atau menyusun strategi penyelesaian dan mempresentasikan (dengan simbol, gambar, grafik, tabel diagram model dll).

Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan sebuah proses penting dari pembelajaran matematika, dimana siswa dapat menggunakan keterampilan untuk memahami masalah melalui identifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan dan kecakupan unsur yang diperlukan, membuat atau menyusun strategi penyelesaian dan mempresentasikan penyelesaian yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Amam, Asep. (2017). Penilaian Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Jurnal Teori dan Riset Matematika (TEOREMA), 2(1), 39-46, 2541-0660. e-ISSN : 2597-7237.

Argarini, Dian Fitri. (2018). Analisis Pemecahan Masalah Berbasis Polya pada Materi Perkalian Vektor Ditinjau dari Gaya Belajar. Jurnal Matematika dan Pembelajaran, 6(1), 91-99 – 94. ISSN : 2303-0992.

Cahyono, Adi Nur. (2010). Vygotskian Perspective: Proses Scaffolding untuk mencapai Zone of Proximal Development (ZPD) Peserta Didik dalam Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta. Erlangga

Haataja, Eeva et al.(2019). Teacher’s Visual Attention When Scaffolding Collaborative Mathematical Problem Solving. Journal Teaching and Teacher Education. Tersedia di : www.elsevier.com/locate/tate

Husamah, Pantiwati dkk. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Malang: UMM Press

Hudojo, H. 1977. Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Dirjen Dikti PPLPTK.

Mukhlis, Hirmaningsih. (2010). Teori Psikologi Perkembangan, Pekanbaru: Psikologi Press.

NCTM. 1989. Curriculum and Evaluation Standars for School Mathematics. Reston, VA: NCTM.

Polya, G. 1985. How To Solve It, A New Aspect of Mathematical Method (2 Ed) . New Jersey: Princeton University Press.

Polya, G. 2004. How To Solve It, A New Aspect of Mathematical Method (G.Polya with A New Foreword by John H Conway). New Jersey: Princeton University Press.

Phonapichat,Prathana dan Suwimon Wongwanich dan Siridej Sujiva. (2014). An Analysis of Elementary School Students’ Difficulties in Mathematical Problem Solving. Procedia Social and Behavioral Sciences. Tersedia di : www.sciencedirect.com

Shadiq, Fadjar. (2008). Psikologi Pembelajaran Matematika SMA. PPPPTK. Yogyakarta.

Sumarmo, U, Dedy, E dan Rahmat (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk  Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung.

Sulasamono, Bambang Suteng. (2012). Problem Solving: Signifikansi, Pengertian, dan Ragamnya. Satya Widya, 28(2), 156-165.

Surya, Edy dan Feria Andriana dan Mukhtar. (2017). Improving Mathematical Problem Solving Ability Self – Confidence Of High School Students Through Contextual Learning Model. Journal on Mathematics Education,8(1), 85 – 94. ISSN : 2087 – 8885.

Tambunan, Hardi. (2019). The Effectivennes of The Problem Solving  Strategy and tehe Scientific Approach to Students Mathematical Capabilities in High Order Thinking Skills, International Electronic Journal  Of Mathematics Education, 14(2),293 -302. e-ISSN : 1306-3030.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *